Minggu, 18 November 2012
REGRETED (Part1)
Title : Regreted
Author : Dian Saraswati^^
FB : Dian Saraswati
Twitter : @saras_diaan
Genre : Drama
Type : Chaptered
Rating : T
Length : 3shoot, Part1
Cast : Super Junior Yesung a.k.a Yesung (예성)
Jang Hyerin/OC (장혜린)
And other ...
Happy Reading!!
Story Begin....
“Kau harus datang ya, Oppa! Please...” Hyerin mengeluarkan jurus puppy eyes-nya. “Kalau Oppa tidak datang... kita putus!” ancam Hyerin pada Yesung yang masih memerhatikan ponselnya.
Hyerin memasang muka pura-pura marah. Aish, tetap saja Jang Hyerin. Toh, namja chingu-mu itu tidak mendengarkanmu. “Yesung Oppa...” kali ini intonasi bicaranya jadi memelas. Jurus apa lagi ini? “Ya, ya. Oppa pasti datang. Tapi ingat! Jangan mengecewakanku! Kalau kau mengecewakanku... kita putus!” balas Yesung mengancam. “Hahaha.. ne, ne. Arasseo..”
Jang Hyerin kini tengah bersiap di backstage untuk penampilannya di drama musikal nanti. Haah.. rasanya tegang sekali. Tapi mengingat ancaman Yesung kemarin.. ah, lupakan! Itu hanya bercanda..
“Hyerin!” panggil seseorang. Hyerin yang tengah sibuk di depan meja rias pun menoleh. “Ya! Yoseobbie!” melihat siapa yang datang, Hyerin langsung menghambur memeluk Yoseob. “Kupikir kau tidak akan datang!” ucap Hyerin. “Mana mungkin aku tidak datang? Apa aku bisa membiarkan yeojachingu-ku tampil tanpa aku?” goda Yoseob. Hyerin mencubit pinggang Yoseob. “Aww! Appoyo. Kau jahat sekali pada pacarmu ini..” ringis Yoseob seraya memajukan bibirnya.
Hyerin terkekeh geli melihat tingkah lucu kekasihnya itu. Aigoo...
“Ya sudah. kau bersiap-siaplah. Aku tidak sabar ingin melihat penampilanmu nanti, Jagi..” ucap Yoseob kemudian pergi dari backstage.
Lima menit lagi drama musikal akan dimulai. Semua pemain juga sudah bersiap di balik panggung. Termasuk Hyerin dan sahabatnya, Krystal. “Aku kok tegang, ya, Krys?” tanya Hyerin. Tangannya yang memegang ponselpun bergetar hebat dan terasa dingin. “Bukankah memang begini rasanya? Tampil di hadapan banyak orang? Hwaa.. aku serasa jadi artis saja!” ucap Krystal dengan mata berbinar-binar. “Oh ayolah, Krys. Aku serius.”
“Ya, ya. Ini. Kata eonni-ku, kalau tegang, minumlah air putih.” Ujar Krystal sembari menyodorkan segelas air pada Hyerin. “Gomawo.” Ucap Hyerin. Iseng-iseng, Krystal mengintip dari balik panggung. “Wah... banyak sekali penontonnya.” Gumam Krystal. “Benar.” Ucap Hyerin. Pandangan Hyerin menyapu ke seluruh isi gedung kesenian. Mencari sosok Yesung disana. Sampai matanya tertohok pada sosok Yesung yang berada di barisan kursi penonton. Dan... OMONA!
Hyerin membelalakkan matanya tak percaya. Yoseob duduk di samping Yesung!? Sulit dipercaya! Bagaimana bisa!? Yaa... eotteokhae? Mendadak Hyerin menjadi panik. Kenapa semuanya jadi begini? Sungguh dia tidak mengira kebetulan akan terjadi sekarang. Dan rasa percaya dirinya kini berubah menjadi kacau.
Drama musikal pun dimulai. Semua pemain memerankan karakter mereka masing-masing mengikuti alurnya. Penonton pun merasa terhibur dengan drama musikal tahun ini. semuanya berjalan lancar. Dan itu membuat Hyerin bisa bernafas lega. Perasaan kacaunya tadi, untung tidak merusak acara. Oh, baguslah. Setelah drama musikal selesai, seluruh penonton mulai meninggalkan gedung kesenian.
“Kelihatannya penonton merasa terhibur, ya?” ujar Krystal yang berjalan di samping Hyerin. “Ah, ne.” Balas Hyerin singkat. Krystal yang merasa aneh dengan sahabatnya tersebut, terus memperhatikan Hyerin. “Kau sakit, Hyerin-ah?” tanya Krystal. “Ani..”
“Tapi wajahmu pucat, lho.” Tutur Krystal. “Aku tak apa. Sudah, ya. aku pulang dulu. Bye!” Hyerin kemudian pergi sembari melambaikan tangannya pada Krsytal.
“Chukhae!!” suara dari arah belakang membuyarkan Hyerin. Gadis itu menoleh ke sumber suara. Didapatinya Yoseob yang berdiri sambil memegang bucket bunga di tangannya. Pemuda itu merentangkan kedua tangannya dan memeluk Hyerin. “Selamat, ya!” ucap Yoseob. “Gomawo, Yoseob.” Balas Hyerin kemudian menerima bucket bunga itu. Hyerin tersenyum tipis. “Sepertinya kau sangat lelah hari ini. Kajja! Kita pulang!” tutur Yoseob seraya menggamit lengan Hyerin.
Hening. Suasana di dalam mobil kini terkesan hening dan canggung. Baik Yoseob maupun Hyerin, tak ada yang mengucapkan sepatah katapun. Yoseob menoleh pada Hyerin. Dilihatnya wajah gadis itu yang amat pucat. “Hyerin... kau sakit, Jagiya?” tanya Yoseob seraya mengelus rambut Hyerin. “Ani...”
“Sepertinya tidak begitu.” Ujar Yoseob. “Aku tidak apa-apa, Seobbie. Sudah cepat pulang. Aku lelah.” Kata Hyerin sambil memijit keningnya yang terasa sakit.
Akhirnya mereka sampai di apartemen Hyerin. Baru sampai lobi, Hyerin kemudian menyuruh Yoseob untuk segera pulang. “Yoseob.. terima kasih sudah mengantarku pulang. Tapi.. tak apa kan, kalau aku menyuruhmu pulang?” ujar Hyerin. “Ah, sama-sama. Tapi.. apa kau yakin?” tanya Yoseob memastikan. Hyerin mengangguk. “Baiklah. Aku pulang dulu, ne? Kau istirahatlah. Jaljayo..” ucap Yoseob seraya mengacak pelan rambut Hyerin.
Hyerin berjalan meninggalkan lobi dan menuju lift. Hyerin memencet tombol lift. Setelah pintu lift terbuka, Hyerin segera memasukinya. Tangannya sedari tadi tak berhenti memijit pelipisnya yang masih terasa sakit. Bahkan sekarang, rasanya jauh lebih sakit. Wajahnya mulai memucat. Sepertinya benar dugaan Yoseob.
Hyerin memasuki kamar apartemennya. Ia membanting handbag miliknya ke sofa ruang tamu. Hyerin kemudian berjalan ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya yang sangat lelah itu ke kasur. Lambat laun, Hyerin mulai mengantuk.
Hampir sedikit lagi memejamkan mata, dengan terpaksa, Hyerin harus menjawab panggilan masuk pada ponselnya. Hyerin membelalakkan matanya ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya. ‘Yesung Oppa is Calling’. Dengan ragu, diraihnya ponsel yang terletak di nakas samping ranjang.
“Ha-Halo?” ucap Hyerin gugup.
“.....”
“Ne, Oppa. Aku sudah di apartemen.”
“.....”
“A-aku pulang bersama Krystal.”
“.....”
“Ne. Annyeong!”
Hyerin kemudian mengakhiri panggilannya. Sudah diduga. Pasti Yesung akan menanyakan, pulang bersama siapa Jang Hyerin? Gadis itu menghela napasnya. Dia sangat lelah hari ini. akhirnya Hyerin pun memutuskan untuk tidur.
“Aku tau apa yang kulakukan ini salah. Aku mengkhianatimu tanpa kau tau. I’m so sorry.”
Hari ini, Hyerin memutuskan untuk tidak banyak aktifitas. sejak kepalanya yang berdenyut hebat tadi malam, tubuhnya juga terasa sakit. Dan ia juga menelpon Krystal untuk menemaninya di apartemen. “Apa yang kau rasakan? Pusing?” tanya Krystal seraya menyentuh kening Hyerin. “Badanmu panas. Kuambilkan kantung es, ya?” ucap Krystal kemudian melenggang pergi ke dapur.
Hyerin kini terduduk di sofa. Badannya terasa lemas sekali saat ini. tak lama, Krystal datang dan membawa kantung es untuk mengompres Hyerin. “Kurasa, kemarin kau tidak apa-apa. Kenapa sekarang jadi begini?”
“Entahlah. Aku capek, Krys.” Ujar Hyerin lemah. “Perlu kutelpon Yesung?” mendengar pertanyaan Krystal, Hyerin menatap sahabatnya itu. “Tidak usah.” Jawab Hyerin. “Ataukah..Yoseob?”
Lagi. untuk kedua kalinya Hyerin menatap Krystal. Wanita berambut panjang itupun menatap Hyerin seolah bertanya ‘perlukah-kutelpon-Yoseob?’. Kali ini Hyerin nampak berpikir. Kenapa saat ditanya Yesung, Hyerin dengan cepat menjawab “tidak”. Tapi giliran Yoseob...kenapa rasanya enggan untuk bilang “tidak perlu”?
“Sebetulnya, kau ini mencintai siapa? Yoseob atau Yesung?” tanya Krystal penasaran. Hyerin tidak menjawab Krystal. Ia hanya diam. Kedua matanya menatap kosong ke depan. Ini sungguh membuatnya dilema. “Ayolah, Hyerin. Kau tidak bisa begini. Kau harus memilih. Yesung atau Yoseob?”
“Aku tidak bisa...” ujar Hyerin parau. “Aku tidak bisa memilih. Aku mencintai mereka. Aku mencintai Yoseob, dan juga Yesung.”
“Tapi kau menyakiti Yesung, kau tau? walaupun dia tak mengetahuinya.” Tutur Krystal. Hyerin berpikir lagi. Tapi mau bagaimana? Dia mencintai keduanya. Sungguh ini sangat sulit.
Nan meomunda (meomunda) Nan meomunda (meomunda)
Saranghaetdeon gieokdeuri nareul gajigo nonda
Tiba-tiba, ponsel Hyerin yang tergeletak di meja ruang tamu berdering. Dilihatnya panggilan masuk. ‘Cho Kyuhyun is Calling’. Sebenarnya Hyerin malas menjawab panggilan itu. Tapi.. siapa tau ada yang penting? Jadi Hyerin memutuskan untuk menjawab panggilan itu.
“Yeoboseyo?”
“.....”
“Tidak ada.”
“......”
“Bertemu? Dimana?”
“.....”
“Baiklah. Aku akan segera kesana.”
Hyerin memutus sambungan telponnya dan bergegas mengambil blazer putih miliknya. “Kau mau kemana, Hyerin?” tanya Krystal yang melihat Hyerin nampak terburu-buru. “Pergi sebentar.” Jawab Hyerin kemudian lekas keluar dari kamar apartemennya.
Kini Hyerin tengah duduk di sebuah cafe. Mengedarkan pandangannya keluar jendela. “Jadi... bagaimana?” tanya seseorang di hadapannya, yang tak lain adalah Cho Kyuhyun, sahabat Yesung. “Kau masih mencintainya?”
Lagi-lagi Hyerin diam. Tadi di apartemen, Krystal sudah menanyakan hal itu. sekarang.. Oh, God! Hyerin memutar bola matanya bosan. Bosan karena sudah berkali-kali ia dihujani pertanyaan seperti ini oleh Kyuhyun dan Krystal. “Kenapa bertanya begitu?” Hyerin balik bertanya sembari menyesap Americano miliknya.
“Kenapa? Kenapa kau bilang? Hei, Nona Jang. Apa kau tak sadar kalau kau mempermainkan Yesung?” tanya Kyuhyun sedikit emosi. Hyerin tak menjawab lagi. dia tak tau kali ini harus berkata apa. “Lebih baik akhiri hubungan kalian, dan kau bahagialah bersama Yoseob.” Titah Kyuhyun. Hyerin agak tersentak mendengar kalimat Kyuhyun. “Kau tidak mengerti, Kyuhyun-ssi. Aku mencintai Yesung.”
“Kalau kau mencintainya, tinggalkanlah Yoseob. Itupun kalau kau bersungguh-sungguh mencintainya.” Ujar Kyuhyun kemudian berdiri dan meninggalkan Hyerin. “Tunggu!” Hyerin menahan tangan Kyuhyun. “Harusnya kau tidak begini. Ini urusanku dengan Yesung. Harusnya kau tidak ikut campur!” tegas Hyerin. “Dengar baik-baik. Aku adalah sahabat baiknya. Dan siapa yang ingin melihat sahabatnya tersakiti? Tidak ada, kan? Begitu juga aku.” Kyuhyun tersenyum sinis pada Hyerin yang masih membatu. Pemuda bertubuh jangkung itu melenggang pergi dari cafe tanpa mempedulikan Hyerin.
Sementara Hyerin, dia masih membeo. Entah kenapa, ia merasa kalau ucapan Kyuhyun dan Krystal tidak ada gunanya. Yang terpenting adalah, ia mencintai Yesung dan Yoseob. Tapi ia tau ini salah. Tak seharusnya ia mencintai keduanya. Gadis itu seolah tak rela melepaskan salah satu di antara mereka.
“Mereka benar... aku harus memilih. Aku tidak bisa bersikap seperti ini. Aku seperti mempermainkanmu. Tapi aku sungguh mencintaimu dan dia. Maafkan aku.”
TBC..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar