Author : Dian Saraswati^^
Twitter : @saras_diaan
Genre : Drama
Type : Chaptered
Rating : T
Length : 3shoot, Part2
Cast : Super Junior Yesung a.k.a Yesung (예성)
Jang
Hyerin/OC (장혜린)
And other ...
Happy Reading!! J
Yesung dan Hyerin.
Pasangan itu kini tengah duduk sambil berbincang-bincang di ruang tamu rumah
Yesung. Sesekali mereka bercanda kecil. Sungguh terkesan manis melihat mereka
sekarang ini. “Hyerin-ah.. saranghaeyo” tutur Yesung. “Ne, Oppa. Nado
saranghaeyo..” balas Hyerin. “Jagi...” panggil Yesung. “Bibirmu...”
gumam Yesung. Pemuda bersurai kemerahan itu mendekatkan wajahnya pada Hyerin.
“Boleh aku menciummu?” tanya Yesung. Hyerin menggeleng keras dan mendorong dada
Yesung. Menyuruhnya menjauh.
“Mianhae, Oppa. Aku
tak bermaksud untuk...” ucapan Hyerin terhenti karena Yesung menempelkan ujung
telunjuknya di bibir Hyerin. “Ssst.. gwaenchanhayo.” Ucap Yesung pelan.
Hyerin tersenyum tipis. Bukannya ia menolak Yesung menciumnya, hanya saja.. ia
merasa bersalah jika Yesung menciumnya. Merasa bersalah karena ia telah
menyakiti Yesung tanpa sepengtahuan pria itu.
“Hyerinnie, ikut aku, ne?”
ajak Yesung sambil menarik lengan Hyerin. “Kemana, Oppa?” tanya Hyerin.
“Kau akan tau nanti. Kajja!”
Kemudian kedua orang itu pergi
menaiki mobil sport hitam milik Yesung. Sepanjang perjalanan, Hyerin hanya
menatap bingung Yesung yang sibuk menyetir sambil sesekali tersenyum sendiri. “Oppa..kau
baik saja, kan?”
“Tentu saja. Bahkan aku
sangat baik.” Ucap Yesung sumringah.
Hyerin melihat sekelilingnya. Hanya hamparan rumput
hijau di sekitarnya. “Oppa..ini dimana sih?” tanya Hyerin sembari
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Yesung tersenyum penuh arti. Kemudian
mendudukkan dirinya di atas hamparan rumput hijau itu.
“Di tempat yang paling aku
inginkan..” jawab Yesung memejamkan matanya. Merasakan hembusan angin segar
yang menerpa wajahnya dan menyibak surai kemerahannya. Hyerin pun ikut duduk di
sebelah Yesung. “Kenapa kau menginginkan tempat ini? tidak ada yang menarik
disini.”
Yesung membuka matanya dan
menatap gadis manis di sampignya itu. “Kenapa ya? hmm.. aku tidak tau. hanya
saja... tempat ini terasa seperti rumah kedua untukku.” Tutur Yesung. Hyerin
hanya terkekeh geli mendengar penuturan pemuda tampan itu. “Kkk~ kau ada-ada
saja, Oppa.”
“Memang benar. Disini, aku
bisa merasa tenang dan aman. Seperti di rumah. makanya aku sebut tempat ini,
rumah keduaku.” Jelas Yesung. “Ah, dan satu lagi.”
“Apa?” tanya Hyerin
bingung. “Kau adalah orang pertama yang kuajak kesini.” Ujar Yesung. Jelas
sekali terlihat semburat merah muda di pipi Hyerin. Gadis itu menutupi wajahnya
dengan kedua telapak tangannya. “K-kau membuatku malu, Oppa!” ucap
Hyerin. “Haha.. Aigoo.. kau terlihat sangat lucu, Hyerinnie.” Ujar
Yesung seraya mengacak pelan rambut Hyerin.
“Hyerin-ah...” Yesung
mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah kotak kecil berwarna biru
gelap. “Apa itu?” tanya Hyerin. Yesung tersenyum, kemudian membuka kotak kecil
tersebut. terlihat jelas di dalam kotak itu, dua buah kalung yang berliontin
huruf inisial ‘Y’ dan ‘H’.
“Ka-Kalung?” ucap Hyerin
terbata. Yesung tersenyum manis dan mengeluarkan kalung itu dari kotaknya. Memakaikan
kalung berliontin ‘Y’ pada Hyerin, dan memakaikan yang berliontin ‘H’
pada lehernya sendiri. “Hyerin-ah...” panggil Yesung. Hyerin mendongakkan
kepalanya. “Kau mengerti maksudku?” tanya Yesung. Hyerin hanya menggeleng.
“Kalung ini.. memiliki
arti. ‘Y’ itu aku. Yesung. Dan ‘H’ itu kau, Hyerin. Ini artinya.. kita adalah
satu. Kau milikku, dan aku milikmu.” Tutur Yesung seraya menggenggam tangan
Hyerin. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum simpul.
‘Mianhae, Oppa.
Sesungguhnya aku bukan hanya milikmu. Jeongmal mianhaeyo’
Kira-kira begitulah kata
hati Hyerin. Baiklah, kalung itu sebagai simbol kalau mereka saling memiliki.
Tapi bagaimana Yoseob? Harus diakui kalau Hyerin juga milik Yoseob. Tapi Hyerin
bukanlah milik mereka seutuhnya. Tapi apa mau dikata? Gadis itu mencintai
keduanya. Dan yang membuatnya dilema adalah, rasa cintanya pada Yesung dan
Yoseob sama. Tidak ada yang dibedakan.
“Hyerin-ah? Jagiya?”
Yesung mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Hyerin. “Ah.. I-Iya, Oppa?
Waeyo?” Hyerin tersadar dari lamunannya. “Kenapa melamun?” tanya Yesung
heran. “Ah, aniyo. Hanya saja aku--....” belum sempat Hyerin meneruskan
kalimatnya, bibirnya sudah ‘diserang’ duluan oleh Yesung. Ckck.. dasar.
Yesung mengecup bibir
mungil Hyerin sekilas. “Ya! Oppa! Jeongmal nappeun!” protes Hyerin
memajukan bibirnya. Yesung yang melihatnya memberi tatapan ‘lapar’ pada Hyerin.
“Ke-kenapa melihatku begitu, O-Oppa?” tanya Hyerin takut. “Kau......Yak!
jangan lari kau, Jang Hyerin!” Yesung berteriak sambil mengejar Hyerin. Oh, dan
sekarang lihatlah dua anak manusia itu. seperti anak kecil saja.
Hyerin kini tengah duduk di sofa apartemennya sambil
menonton TV. Nampaknya dia sangat bosan hari ini. tangannya sedari tadi tidak
berhenti memencet-mencet tombol remote. Berharap menemukan acara yang bagus.
“Ah, menyebalkan! Tidak ada acara yang menarik!” Hyerin kemudian membanting
remote itu ke sofa. Ia sendiri memilih untuk pergi ke dapur. Lebih baik ia
makan daripada tidak ada kerjaan, kan?
Hyerin membuka kabinet
dapur. Kemudian menutup kabinetnya kembali saat tidak menemukan apapun. Ia
membuka kabinet yang lain, dan mengambil sebungkus ramen. ‘Yah, makan ramen
saja. Aku juga malas masak.’ Pikirnya.
Hyerin kini tengah duduk
di kursi makan sembari menikmati ramen yang baru saja dibuatnya. Saat itu juga,
ponsel Hyerin berdering. Gadis itu mengernyitkan dahinya, melihat nama yang
tertera di layar ponsel. ‘Yoseobbie is Calling’.
“Halo, Seobbie?”
“.....”
“Aku di apartemenku. Waeyo?”
“......”
“Baiklah. Dimana?”
“.....”
“Oke. Tunggu aku, ne?”
Hyerin memutus sambungan
telponnya dan segera menghabiskan ramennya. Setelah selesai makan, Hyerin
bergegas pergi menemui Yoseob.
Sekarang, Hyerin tengah berada di Namsan Tower. Hyerin
mengedarkan pandangannya ke arah pemandangan kota Seoul. “Hyerin-ah..” panggil
seseorang membuat Hyerin menoleh. “Eh, Yoseob!” sapa Hyerin pada Yoseob. “Seoul
memang indah, ya?” ucap Yoseob. “Ya. Kau benar..”
“Aku beruntung lahir di
Korea.” Ujar Yoseob. “Hng? Kenapa?” tanya Hyerin. “Aku merasa beruntung.. Because
I was born in the Wonderful Country.” Tutur Yoseob. Hyerin tersenyum manis.
“Ya, akupun begitu. It’s a beautiful world! Oh, Yeah!!” ujar Hyerin
sumringah sembari merentangkan kedua tangannya. Yoseob hanya terkekeh geli
melihat perilaku gadis itu. ckck.. dasar. Mata Yoseob tertohok pada sebuah
kalung yang menghiasi leher jenjang Hyerin. Dia jadi tersenyum sendiri tatkala
melihat liontin itu. huruf inisial ‘Y’.
“Hyerin-ah..?” panggil
Yoseob. Hyerin menoleh. “Kenapa, Seobbie?” tanya Hyerin. “Bahkan kau belum
memberiku kalung berinisial ‘H’. Tapi kau sudah memakai kalung berliontin ‘Y’.”
Ujar Yoseob sambil menundukkan wajahnya tanda malu. Hyerin melihat kalung
pemberian Yesung. Inisial ‘Y’. Mungkin namja cute itu mengira bahwa makna dari
liontin itu adalah ‘Yoseob’. ‘Jang Hyerin babo!’ Rutuk Hyerin pada
dirinya sendiri. “Yoseob, aku....” belum sempat Hyerin meneruskan kalimatnya,
Yoseob sudah memeluknya lebih dulu. “Aku tau kau sangat mencintaiku, Hyerin-ah.
Saranghae...” bisik Yoseob.
“Tapi...”
“Tapi kenapa, Hyerin-ah?”
“Ini... ini tidak
seperti..”
Nan meomunda (meomunda)
Nan meomunda (meomunda)
Saranghaetdeon gieokdeuri
nareul gajigo nonda
Lagi. belum sempat Hyerin
menyelesaikan ucapannya, ponselnya tiba-tiba berdering. Segera diambilnya
ponsel yang ada dalam tasnya itu. ‘Ya Tuhan.. apalagi sekarang?’ melas Hyerin
dalam hati, saat melihat nama Yesung tertera di layar ponsel. Hyerin menggigit
bibir bawahnya. Ia terlihat sangat ragu untuk menjawab panggilan itu.
Dasi han beon one more
time
Ireohke kkeutnandani
mideul suga eobtneun geolyo
Gojak-i jangdeoro, geu su
manhatdeon yaksokdeureun eotteoke eotteoke
Hyerin masih mendiamkan
ponselnya yang terus berdering. “Hyerinnie, kenapa tidak diangkat?” tanya
Yoseob. Hyerin diam dan masih menatap layar ponselnya. Yoseob heran melihat
kekasihnya seperti itu. Ada apa dengannya, eh? “Jagi, kau
mendiamkannya.” Ucap Yoseob membuyarkan Hyerin. Kemudian gadis itu menyadari
bahwa panggilan itu berakhir dengan sendirinya. “Kau kenapa, Hyerinnie?” tanya
Yoseob lembut. “A-aku harus pergi sekarang, Seobbie.” Pamit Hyerin kemudian
bergegas pergi. “Hyerin, kau mau kemana!?” terdengar teriakan Yoseob
memanggil-manggil. Tapi Hyerin tak peduli dan terus melanjutkan langkahnya.
Hyerin memasuki apartemennya. Gadis itu lalu
mendudukkan dirinya di atas sofa. Sungguh.. ia sangat sangat amat lelah dengan
semua ini. Tapi mau bagaimana? Sudah dikatakan kalau dia mencintai Yesung dan
Yoseob, kan? Dan diapun sudah mulai lelah. Bodohnya dia. Kenapa harus memilih backstreet
sebagai jalannya? Menjalin hubungan dengan Yoseob di belakang Yesung. Menyakiti
Yesung tanpa sepengetahuan pria itu?
Mencintai dua pria tanpa
ada yang dibedakan?
Oh, No!
Kini kedua mata Hyerin
terasa panas dan berair. Perlahan tapi pasti, airmata mulai membasahi pipinya. Dia
merasa sangat bodoh sekarang. bodoh sekali. Dirinya sekarang tak lebih dari seorang playgirl. Oh,
Please!
Entah apa yang harus dia perbuat
sekarang. Dia benar-benar tidak tau. Hyerin tetap menangis. Menangisi
kebodohannya sendiri. Intinya, ia hanya ingin menangis sekarang. menangis
sampai ia benar-benar lelah.
Hyerin menghentikan
tangisnya sementara, kala melihat pintu apartemennya terbuka dan menampilkan
sosok yang sudah sangat ia kenal. Yesung. Pemuda bermata sipit itu berdiri di
ambang pintu. Kemudian berlari kecil menghampiri Hyerin.
“Jagi, neo wae? Kau
kenapa, Hyerin-ah?” tanya Yesung cemas. Kedua tangannya menangkup pipi Hyerin.
Menatap lekat kedua iris caramel milik Hyerin. Sedangkan Hyerin hanya
bisa menangis. Reflek, Yesung memeluk erat gadis itu. berusaha menenangkannya.
“Uljimara, Hyerin-ah.” Ucap Yesung. Hyerin makin terisak. “Katakan
padaku. Kau kenapa?” tanya Yesung.
Hyerin masih enggan
menjawab. Kenapa Yesung harus datang di saat yang tidak tepat ini? saat Hyerin
justru menangis mengingat ia telah menyakiti pemuda ini. tanpa sepengetahuannya.
Dia hanya ingin menangis dalam pelukan hangat Yesung. Menangis sampai
benar-benar lelah dan tertidur. Toh dengan begitu, Yesung takkan menanyakan
apapun padanya. “Baiklah jika kau tak ingin menceritakannya. Tak apa.”
Yesung mengeratkan
pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis. Bahkan kemeja yang dikenakannya pun
basah karena airmata Hyerin. Biarlah. Ia membiarkan Hyerin menangis sepuasnya.
Sampai ia benar-benar merasa tenang.
“Aku menangis. Aku memang
pantas menangis. Aku bodoh. Mianhaeyo...”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar